Siang Itu Di Sebuah Pohon Jambu

09.30

Siang Itu Anak-Anak Bermain Di Bawah Pohon Jambu

Siang itu di sebuah pohon jambu. Beberapa bocah tanggung tampak asyik berbicara dan saling menebar senyuman lucunya.

Sebuah senyuman yang bisa menggelitik jiwa orang dewasa. Mereka tampak bahagia bercengkerama dengan alam desa.

Pohon jambu menjadi salah satu tanaman wajib yang tumbuh di rumah-rumah warga pedesaan.
Termasuk yang sering terlihat di rumah-rumah penduduk desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas - Jawa Tengah.

Siang Itu Langit Tampak Sedikit Mendung

Siang itu langit Desa Dawuhan Kulon tak secerah hari biasanya. Udara tampak terasa agak panas. Sebuah pertanda akan datangnya hujan.

Jika hujan turun membasahi bumi desa, maka jalanan akan menjadi hening dan terasa sekali sunyinya.

Hanya orang-orang tertentu saja yang mau berbasah kuyup ria saat hujan sedang turun dengan deras-derasnya.

Bukan karena takut akan dinginnya air hujan. Tapi suara menggelegar dari "cambuk-cambuk malaikat" (petir) itulah yang membuat penduduk desa lebih memilih berada di dalam rumah.

Nikmatnya Ngopi Saat Sedang Turun Hujan

Jika hujan turun saat sore hari (selepas salat Ashar), maka aktifitas yang paling menyenangkan adalah ngopi bersama keluarga.

Acara minum kopi, teh, susu, sering disebut "Medhang". Cara membaca suku kata "me" adalah seperti saat mengucapkan kata "rame".

"Medhang" paling pas ditemani ketan goreng. Bisa juga menggantinya dengan pisang goreng, tales goreng, tempe mendoan, dan berbagai macam kuliner lezat lainnya.

Penduduk desa biasanya melaksanakan acara "Medhang" ini sebanyak dua kali dalam sehari. Yakni saat pagi hari sambil menghirup udara desa yang segar.

Atau dilakukan saat sore hari sambil berkumpul bahagia dengan keluarga. Karena profesi warga Desa Dawuhan kebanyakan adalah petani atau pedagang pasar saat pagi. Maka sore hari menjadi waktu yang pas untuk sejenak melepas penat.

Hidup Di Desa Itu Jauh Dari Stres

Saya mengalami sendiri perbedaan antara hidup di desa dan di kota. Perbandingannya adalah untuk orang-orang yang sudah mendapatkan kerja. Atau sudah punya pekerjaan tetap.

Karena kalau memakai perbandingan orang yang belum mendapat kerja, tentu tak terlihat bedanya. Yah, orang yang "menganggur" baik di desa atau di kota saya rasa stresnya hampir sama.

Untuk orang yang tinggal di desa dan punya pekerjaan tetap. Hidup di desa terasa nyaman dan tenteram.

Namun sebaliknya. Orang yang punya pekerjaan tetap di kota, rentan sekali mengalami stres.
Karakter orang desa dan kota sangat terasa sekali kontrasnya. Saya sering alami, saat berpapasan dengan penduduk desa sangat terlihat sikap ramahnya. Meskipun kita tidak tahu siapa yang sedang kita sapa.

Lha kalau di kota? Boro-boro mau tersenyum. Berpapasan dan menyapa orang yang belum dikenal akan terasa sangat aneh.

Ini disebabkan oleh tingkat "keacuhan" orang kota yang sangat tinggi. Artinya individualisme, hedonisme, sangat melekat pada diri orang kota. Meskipun demikian, masih ada segelintir kecil orang kota yang ramah dan baik hati.

Pohon Jambu Mengingatkan Saya Pada Masa Lalu

Pohon jambu membuka ingatan saya akan sebuah kehidupan 27 tahun silam. Yakni ketika di Desa hampir tidak pernah terlihat sepeda motor yang lalu lalang di depan rumah.

Jika ada suara sepeda motor terdengar, maka orang desa akan bisa menebak. Oh...itu motor Pak Guru, Oh...kalau yang itu motor Pak Kades.

Sehingga, kalau mau dibuat prosentase dan dihitung dengan cermat. Hanya ada 2 persen dari jumlah penduduk, yakni warga yang memiliki sepeda motor. Dengan kalimat lain bisa dihitung dengan jari.

Siang Itu Di Sebuah Pohon Jambu

Pohon Jambu Membuka Kenangan Manis Bersama Simbah

Zaman Simbah masih hidup, hidup keluarga saya terasa begitu makmur dan berkah. Dan kami tak pernah bingung soal sembako. Simbah adalah wanita luar biasa yang menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya.

Kebutuhan pangan tersedia melimpah. Harganya pun murah meriah. Dengan kualitas bahan makanan yang masih asli atau murni. Sehingga kami dulu jarang mendengar penyakit yang aneh-aneh.

Kebetulan Simbah memiliki ladang sawah yang luasnya berlipat-lipat dari lapangan sepak bola. Sehingga hampir saja terjadi, sekali panen bisa untuk makan satu tahun.

Disamping itu, rumah Simbah juga memiliki lapangan bulu tangkis atau voli sendiri. Inilah yang membuat kami selalu sehat dan bugar sepanjang hari.

Penutup

Itulah cerita dibalik pohon jambu. Yang memberi kabar tentang "kejayaan masa lalu". Saat semuanya terlihat asri, makmur, tenteram, adem ayem setiap hari.

Masa dimana anak jarang "memb*ntah" perkataan orang tua. Masa dimana tidur tak terganggu oleh radiasi gelombang elektromagnet. Masa dimana "Salat Malam" menjadi momen terdahsyat dan terindah.

Dan pohon jambu pun berkata lantang:
"Hahahaha...masih penak zamanku toh ?!?"
Salam sukses dan mulia!.

[Sukapura; Selasa, 3 Juli 2018; 23.31 WIB]
Previous
Next Post »

12 komentar

  1. Q dulu juga suka panjat pohon jambu sama temen temen Hihi

    BalasHapus
  2. Menyenangkan membayangkan masa lalu sambil nostalgia ;p
    Masih berbuah kah jambunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih Sobat, itu makanya pada diambilin sama anak-anak jambunya.

      Hapus
  3. Betul, perbedaan keramahan orang yang tinggal di desa dan perkotaan sangat kontras.
    Penduduk desa ramah2 dan mau ngajak bicara duluan, kadang malah ngajak mampir main kerumahnya.

    Jadi ingat, dulu aku kecil sering manjat pohon jambu.
    Nangkring diatas sana sambil nguyah tunas daun jambu dan sedikit garam 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pohon jambu menyisakan banyak kenangan ya Bang Himawan.

      Hapus
  4. Sifat kegotong-royongan yang masih terpelihara di desa saya meskipun tidak sama persis seperti dulu lagi. Hidup di desa itu menenteramkan dan menyenangkan. Saya sendiri ada niat kuat untuk kembali ke desa saatnya nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keinginan yang hampir sama Bang Hindro. Apalagi di desa sekarang sudah ada internet, jadi aktifitas ngeblog bisa tetap kita lakukan.

      Hapus
  5. Ngomongin pohon jambu, langsung teringat pohon jambu dihalaman rumah yang selalu berbuah ranum dan aku yang masih kecil selalu merengek sama kakek minta dipetikin jambu, padahal sudah batuk kebanyakan makan jambu. Hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...buah jambu baik untuk kesehatan. Batuk itu boleh jadi karena jambunya nggak dicuci, tapi langsung dimakan.

      Hapus
  6. ora ning deso ora kepenak , aku selalu rindu alam pedesaan, sungai, kebun, sawah yang menguning, menangkat ikan di parit kecil, menjalajahi hutan rimba, rasanya hidup begitu damai

    BalasHapus
  7. Masih inget jaman dulu saya sedikit tmboy kang,, seneng gtu naik2 ke puncak gunung alias naik pohon2 yang tinggi.. Sekarang boro2 kang uda sadar umur ya hahahaa

    BalasHapus

Artikel Populer Lainnya