Puja Syarma - Suara Merdunya Bikin Saya Klepek-Klepek

07.15 4 Comments

Puja Syarma - Selain Cantik Juga Memiliki Suara Yang Merdu

Suatu malam saya sedang mendengarkan lagu melalui Youtube. Seperti biasa hal itu saya lakukan saat sedang merasa bete atau bad mood. Dengan mendengarkan alunan musik saya berharap bisa sedikit menurunkan ketegangan pikiran akibat seharian sibuk bekerja.

Puja Syarma - Suara Merdunya Bikin Saya Klepek-Klepek
Puja Syarma - Suara Merdunya Bikin Klepek-Klepek

Kebetulan saya melihat sebuah sorotan video yang secara tak sengaja saya klik. Muncullah sebuah video yang menampilkan sebuah lagu Minang berjudul "Pulanglah Uda". Nama penyanyi yang tertulis adalah Puja Syarma. Sebuah nama yang cukup asing bagi saya (bisa jadi karena saya yang kurang gaul atau kurang peka...hehehehe).

Wow! Dalam hati saya berdecak kagum dan serasa dibuai ke alam mimpi. Saya baru menyadari bahwa penyanyi bernama Puja Syarma ini suaranya sangat merdu. Bahkan bila dibandingkan dengan para penyanyi ternama, suara dek Puja Syarma (biar kelihatan tua, jadi manggil dek...hehehe) ini sungguh sangat luar biasa.

Suara Merdu dan Kecantikannya Bikin Saya "Jatuh Hati"

Baru kali ini saya merasakan senang luar biasa kepada seorang penyanyi. Suara merdu Puja Syarma, sekaligus kecantikannya membuat saya klepek-klepek. Bisa dibilang saya ngefans berat sama penyanyi yang satu ini.

Lagu Minang Pulanglah Uda


Akibatnya saya jadi menyukai lagu berjudul "Pulanglah Uda" tersebut. Padahal sebelumnya saya kurang familiar dengan lagu-lagu Minang atau daerah Sumatera lainnya. Dan Puja Syarma membawakan lagu tersebut dengan sangat merdu, empuk, renyah, dan legit (hehehe...macam makanan saja).

Mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Puja Syarma membuat mood saya benar-benar menyala. Bikin hidup jadi lebih hidup kata pepatah zaman now. Dan tentu saja saya hanya bisa mengagumi penyanyi asal Aceh yang bernama asli Syarifah Mahfuza ini dengan mendoakannya. Semoga dek Puja Syarma sukses dalam berkarir dan selalu sehat sepanjang hari. Salam.

Sumber:

2019 Sudah Di Depan Mata, Apa Impianmu?

06.16 23 Comments

2019 Sudah Di Depan Mata

2019 sudah di depan mata. Tak terasa ya Sobat sekalian?. Di bulan Desember 2018 ini merupakan saat yang tepat bagi kita semua untuk merenung dan memikirkan kembali. Atas berbagai hal yang sudah kita alami, atas nikmat-nikmat yang menghampiri hari-hari kita di tahun 2018.

Bersyukur tentu menjadi hal utama yang mesti kita tunjukkan. Karena nikmat waktu masih bisa kita rasakan getarannya. Kesempatan bercengkerama dengan orang-orang yang kita sayangi adalah hal terindah yang patut kita syukuri. Yah benar, keluarga merupakan unsur penting dalam hidup kita.

2019 Sudah Di Depan Mata, Apa Impianmu?

Tanpa adanya usaha untuk membahagiakan keluarga, tentu akan mustahil bagi kita untuk merasakan bahagia yang sebenar-benarnya. Jika orang tua masih bisa berkumpul dengan kita, maka gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

Salah satu QUALITY TIME yang sangat berarti bagi saya adalah saat saya bisa sesering mungkin menyapa dan membalas senyuman dari orang tua. Selagi hayat masih dikandung badan, menjadi kesempatan bagi kita untuk memberikan secuil kebahagiaan untuk orang tua. Meskipun itu tak akan sebanding dengan apa yang telah mereka berikan dan lakukan untuk kita selama ini.

Setiap Insan Memiliki Impian

Tak dapat dipungkiri, bahwa dalam benak pikiran kita masing-masing tentu memiliki impian yang ingin diwujudkan dalam hidup ini. Entah itu berkaitan dengan perihal cinta, karir, kepemilikan atas harta, dan juga impian yang berhubungan dengan aspek spiritual.

2019 menjadi momen yang tentu mendebarkan, terutama bagi saya. Ada sedikit kekhawatiran yang selalu saja datang. Yakni sebuah pertanyaan yang terus menggelayut dan membayang-bayangi keseharian saya. Akankah di tahun 2019 nanti impian saya akan terwujud dengan indah? InsyaAllah jawab saya berusaha untuk menyakinkan diri.

Sebelum melangkah pasti di tahun 2019 (InsyaAllah), tentu hal yang harus diingat adalah bahwa pencapain yang telah kita raih di tahun 2018 patut kita syukuri. Dan tentunya kita harus lebih berhati-hati, agar kesalahan-kesalahan konyol di tahun ini tidak akan terulang di tahun 2019 nanti.

2019, Masih Eksis Ngeblog Nih?

Saya jawab dengan Iya Dong....hehehe. Tampaknya ngeblog telah menjadi aktifitas yang sudah mendarah daging bagi saya. Tak peduli berapa rupiah pun yang saya dapatkan dari hasil ngeblog. Yang jelas saya merasa sangat bersyukur.

Toh ngeblog ternyata bukan sekedar hanya karena uang. Nyatanya banyak kepuasan batin yang saya rasakan setelah menggeluti dunia tulis-menulis di internet ini. Saya juga mendapatkan kehangatan dari aktifitas tegur sapa dan saling memberikan komentar pada artikel-artikel yang kita tulis.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa Persahabatan Bagai Kepompong. Artinya hal itu akan selalu berbuah keindahan. Dan rasa terima kasih tentu saya haturkan kepada rekan-rekan, sobat-sobat blogger, sobat pembaca sekalian. Yang telah sudi dan penuh "cinta kasih" memperhatikan tulisan saya yang kadang ngalor-ngidul nggak genah ini...hehehe.

Bersama ini saya nyatakan bahwa di tahun 2019 nanti saya masih eksis ngeblog sembari membangun dan meraih impian. Salam sukses selalu, dan semoga di tahun 2019 nanti bisa kita jalani dengan indah dan berkah...Aamiin.

Puisi - Tangisan Senja

06.42 7 Comments

Puisi - Tangisan Senja



Tangisan senja luruhkan rasa yang merantai hati,
menggunung bersama ombak,
mencari pantai tuk sandarkan diri...

Tangisan senja meretas lirih,
sayup-sayup melaju,
merayap sesak bersama lantunan tasbih...

Pada siapakah rasa ini kan kutambatkan?
Kapankah kehangatan kan merajai lorong-lorong sepi,
yang tergeletak pasrah pada ruang hampa di hati?

Bertahun-tahun menanti sebuah jawaban,
saat kerinduan berbaur sempurna dengan azas penciptaan...

Lalu sejenak ia pun terhanyut,
pada harumnya bunga di taman penuh warna,
bersama bidadari mungil yang menari-nari...

Tangisan Senja pun semakin "mrebes mili",
lambungkan harapan akan kalimat suci,
yang kan terdengar oleh para "penghuni langit...

Sesaat kemudian ia pun tersenyum,
bersama rasa yang semakin merintih penantiannya,
dan ia pun bertanya:
"Nak...kapankah engkau akan terlahir di dunia?"

[Sukapura; Kamis, 29 November 2018; 21:39]

Puisi - Sadar

08.14 6 Comments

Puisi - Sadar

Puisi - Sadar
Gambaridntimes.com

Kini aku tlah mengerti...
Setelah kudengar dan kuresapi,
setiap pejam yang memalingkan kehangatan tatapmu,
memberiku sedikit waktu,
menemukan sebait pesona indah,
pada sosokmu yang mengagumkan....

Kini aku tlah mengerti...
Setelah kupandang dan kutimang,
setiap hela nafas yang berhembus panjang,
memberi jeda pada ramuan kata,
memberiku sedikit kesempatan,
menemukan sisi lain dari cahaya,
pada hijabmu yang menakjubkan....

Kini aku tlah mengerti...
Bahwa kita tak perlu berpijak terlalu lama,
pada bebatuan tandus,
yang tertanam bising-bising kepanikan,
membawa kita pada nyanyian gamang,
yang membiaskan makna kehadiranmu....

Kini aku tlah mengerti...
Bahwa asa tak boleh mengalah,
pada gendang-gendang kemalasan,
merayu manja merekat pada jiwa yang lelah,
saat kita terjerat asap amnesia,
tentang satu pesan dibalik pohon mangga,
mengabarkan dogeng layu di negeri senja,
ketika langkahmu tiba-tiba terperosok,
terlempar dari serabut benang yang mengikat kesetiaan...

Kini aku tlah mengerti...
Dan kuingin slalu ada,
disetiap kalimat penutup doa-doa suci yang engkau lantunkan,
agar asaku terpaut dengan rasa yang tak pernah padam....

Puisi - Curhat Sang Dukun

04.47 25 Comments

Puisi - Curhat Sang Dukun

Puisi - Curhat Sang Dukun

Malam Jum'at Kliwon,
purnama merangkak naik,
menembus dinding-dinding bambu,
melabuhkan sebuah kisah tentang kesunyian...

Semerbak wangi asap dupa,
berebut cantik dengan wangi 7 kuntum bunga,
lalu komat-kamit sang dukun melantunkan mantra,
iringi jemarinya yang mulai menari,
bersama percikan kemenyan yang meletik sempurna...

Malam itu sang dukun benar-benar ingin sendiri,
berusaha meredam gelora yang memuncak,
dengan geram ia mulai merapal sebuah Aji Pamungkas,
satu-satunya "Ilmu" tertinggi di dunia metafisika,
dan hanya sang dukun itulah yang mampu menguasainya...

Kakek pernah bercerita,
jika ada cahaya hitam bercampur merah,
melintas diatas atap rumah penduduk desa,
maka segeralah berkumpul untuk berdzikir dan bertaubat,
karna itu adalah sebuah isyarat,
tentang amarah dan dendam kesumat...

Dan akupun teringat,
pernah melihat sang dukun berdiri angkuh,
seolah-olah ia sedang berbicara,
pada beringin besar disamping rumahnya,
hingga bibir yang gemetar itupun berteriak lantang:
"Siapakah yang tlah berani mencuri genderuwo kesayanganku ???!!!"....

[Sukapura; Minggu, 11-11-2018; 19:41 WIB]

Puisi - Kecewa

19.19 8 Comments

Puisi - Kecewa

Puisi - Kecewa
Gambar: sepedaku.org

Pagiku hilang tinggal kenangan,
ditelan senja yang makin muram,
pada malam-malamku yang kembali sepi,
dan mungkin lebih sepi dari ritual sakral di Pulau Dewata...

Saatku tak peduli,
dengan senyummu yang penuh kepalsuan,
dan dengan tawamu yang sarat dengan sandiwara...

Kuberi kau satu, kau buang tiga,
kuberi kau tiga, kau buang lima,
hingga tong-tong sampah di sepanjang Jalan Swasembada itupun tak sudi,
tuk menjadi tempat persinggahan terbaik,
di kala hari tengah dijejal terik...

Katakan yang hitam sebagai hitam,
katakan yang putih sebagai putih,
dan jangan kau campur-adukkan keduanya,
dalam sebuah drama abu-abu,
yang kau persembahkan pada Sabtu kelabu...

Adakah obat penawar rindu yang telah terkoyak?
Adakah terapi penyembuh kepercayaan yang terlanjur luntur?

Dan sesaat kemudian,
akan kuakhiri semua ini dengan diam....

[Sungai Bambu; Rabu, 7 November 2018; 10:03]

Puisi - Diam Dalam Geram

18.01 Add Comment

Puisi - Diam Dalam Geram

Puisi - Diam Dalam Geram
Diam Dalam Geram
(Gambar: gaulgelaa.com)

Hari-hari yang gelisah itu mulai terasa,
mengendus-endus mencari ruang yang paling nyaman,
merayap-rayap menemukan waktu yang paling tepat,
tuk berbicara dari nurani,
yang tertutup stigma dan paradigma,
yang menancap sempurna,
bagaikan akar-akar yang tak mudah tumbang...

Meski berkali-kali tubuh yang kekar itu dihempas badai,
tergoda oleh terik sang surya,
dan sesekali tergiur oleh semilir angin malam,
yang menusuk-nusuk lembut,
dingin sampai sungsum lapisan terdalam...

Hari-hari yang mendebarkan itu tlah sampai pada "pelaminannya",
mencoba untuk mendapatkan "pengasuh" yang paling bijak,
dan ia sangat merindukan seorang sahabat,
yang slalu mengerti dan paham,
bahwa melodi yang slama ini terdengar,
tlah terbuang dari pijakan sejatinya,
"notasi-notasi" suci yang seringkali diabaikan keberadaannya...

Ketika sesuatu yang "kasat mata",
tak kuat lagi menjalin persahabatan,
dengan sesuatu yang tampak oleh mata dan mampu kita raba,
maka kecewa, nestapa, batin yang lara,
adalah "musuh" yang mesti dikendalikan,
saat "kuasa diri" sedang tak bersemayam di singgasana waktu,
bersama selendang kewibawaan yang slama ini senantiasa setia,
menentang alur fatamorgana,
dan mengobrak-abrik pondasi-pondasi yang kokoh,
dari bangunan kemunafikan...

Kini...ia hanya ingin diam dalam geram,
diam dan terus terdiam....

[Jakarta; 22 Januari 2015; 21:18]

Puisi - Air Mata Surga

19.21 6 Comments

Puisi - Air Mata Surga


Ada yang menangis,
karna rindu yang begitu menggumpal,
Ada yang menangis,
karena kekasihnya tak juga halal untuk ia sentuh,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata asmara....

Ada yang menangis,
demi sebuah prestise,
yang menopang bisnis trilyunan rupiah,
berpijak pada notasi-notasi abstrak,
yang mengaburkan antara fakta dan imaji,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata sandiwara....

Ada yang menangis,
karna anak-anaknya kelaparan,
bersama hutang yang terlanjur mendarah daging,
Ada yang menangis,
karna air, angin, api, dan tanah mengamuk tanpa jeda,
bersama puing-puing yang bersandar tak beraturan,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata nestapa....

Ada yang menangis,
karna terbangun dan sadar,
bahwa semua ini hanyalah senda gurau belaka,
yang berputar-putar pada permainan bengis bertabur fitnah,
Ada yang menangis,
karna penyesalan yang begitu hebat,
menetes deras bersama debu-debu tebal,
yang slama ini mengotori batinnya,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata surga...

Sayang,
ijinkanlah malam ini aku untuk menyendiri,
lepaskanlah sejenak genggaman jemari lentikmu,
lupakanlah sesaat perihal permadani yang empuk nan hangat,
karena malam ini aku benar-benar ingin menangis,
dan meneteskan air mata surga....

Puisi - Air Mata Surga
Puisi - Air Mata Surga

[Sungai Bambu; Senin, 05 November 2018; 10:15 WIB]

Baca Juga : PUISI - NAMAKU ADALAH JAKARTA

Puisi - Namaku Adalah Jakarta

06.39 5 Comments

Puisi - Namaku Adalah Jakarta

Puisi - Namaku Adalah Jakarta
Puisi - Namaku Adalah Jakarta

Namaku adalah Jakarta,
terlahir dari tetesan darah para pejuang,
tercipta dari hasrat-hasrat yang tak pernah berhenti bergolak,
hingga aku terpaksa melihat dunia dengan dua pasang mata,
ambisi dan cita-cita mulia....

Jutaan nyawa mencoba paksa,
merangkul aku dengan senyum getir mereka,
bak seorang budak yang tengah bersimpuh dihadapan sang raja...

Jutaan wajah murung pun setengah memuja,
seolah-olah mereka lupa,
bahwa aku bukanlah tempat sejati untuk kembali,
bagai seorang santri yang terpisah dari hafalan "kitab-kitabnya"....

Namaku adalah Jakarta,
terlahir dari tangisan dan doa para syuhada,
yang tulus melepas malam-malam pertama mereka,
dan ikhlas meninggalkan "wangi surga",
yang menempel lembut pada busana pengantin mereka....

Dari jauh aku tampak gemerlap dan megah,
namun saat kalian semakin mendekat,
maka jangan harap aku,
akan memberikan senyuman yang indah,
sekali-kali tidak !!!

Hanya pada mereka yang imannya setebal baja,
dan hanya pada mereka yang memiliki bola mata sebening mutiara sajalah,
akan kutitipkan sajak-sajak kemenangan....

[Sukapura; Minggu, 04 November 2018; 21:28 WIB]

Baca Juga : PUISI - MURIDKU SEORANG BIDUAN
Baca Juga : PUISI - MIMPI YANG SEMPURNA
Baca Juga : PUISI - KERETA TIBA PUKUL 11.55
Baca Juga : PUISI - BIANGLALA, SATU SENYUMAN PENGHAPUS LUKA

Artikel Populer Lainnya