Puisi - Curhat Sang Dukun

04.47 20 Comments

Puisi - Curhat Sang Dukun

Puisi - Curhat Sang Dukun

Malam Jum'at Kliwon,
purnama merangkak naik,
menembus dinding-dinding bambu,
melabuhkan sebuah kisah tentang kesunyian...

Semerbak wangi asap dupa,
berebut cantik dengan wangi 7 kuntum bunga,
lalu komat-kamit sang dukun melantunkan mantra,
iringi jemarinya yang mulai menari,
bersama percikan kemenyan yang meletik sempurna...

Malam itu sang dukun benar-benar ingin sendiri,
berusaha meredam gelora yang memuncak,
dengan geram ia mulai merapal sebuah Aji Pamungkas,
satu-satunya "Ilmu" tertinggi di dunia metafisika,
dan hanya sang dukun itulah yang mampu menguasainya...

Kakek pernah bercerita,
jika ada cahaya hitam bercampur merah,
melintas diatas atap rumah penduduk desa,
maka segeralah berkumpul untuk berdzikir dan bertaubat,
karna itu adalah sebuah isyarat,
tentang amarah dan dendam kesumat...

Dan akupun teringat,
pernah melihat sang dukun berdiri angkuh,
seolah-olah ia sedang berbicara,
pada beringin besar disamping rumahnya,
hingga bibir yang gemetar itupun berteriak lantang:
"Siapakah yang tlah berani mencuri genderuwo kesayanganku ???!!!"....

[Sukapura; Minggu, 11-11-2018; 19:41 WIB]

Puisi - Kecewa

19.19 8 Comments

Puisi - Kecewa

Puisi - Kecewa
Gambar: sepedaku.org

Pagiku hilang tinggal kenangan,
ditelan senja yang makin muram,
pada malam-malamku yang kembali sepi,
dan mungkin lebih sepi dari ritual sakral di Pulau Dewata...

Saatku tak peduli,
dengan senyummu yang penuh kepalsuan,
dan dengan tawamu yang sarat dengan sandiwara...

Kuberi kau satu, kau buang tiga,
kuberi kau tiga, kau buang lima,
hingga tong-tong sampah di sepanjang Jalan Swasembada itupun tak sudi,
tuk menjadi tempat persinggahan terbaik,
di kala hari tengah dijejal terik...

Katakan yang hitam sebagai hitam,
katakan yang putih sebagai putih,
dan jangan kau campur-adukkan keduanya,
dalam sebuah drama abu-abu,
yang kau persembahkan pada Sabtu kelabu...

Adakah obat penawar rindu yang telah terkoyak?
Adakah terapi penyembuh kepercayaan yang terlanjur luntur?

Dan sesaat kemudian,
akan kuakhiri semua ini dengan diam....

[Sungai Bambu; Rabu, 7 November 2018; 10:03]

Puisi - Diam Dalam Geram

18.01 Add Comment

Puisi - Diam Dalam Geram

Puisi - Diam Dalam Geram
Diam Dalam Geram
(Gambar: gaulgelaa.com)

Hari-hari yang gelisah itu mulai terasa,
mengendus-endus mencari ruang yang paling nyaman,
merayap-rayap menemukan waktu yang paling tepat,
tuk berbicara dari nurani,
yang tertutup stigma dan paradigma,
yang menancap sempurna,
bagaikan akar-akar yang tak mudah tumbang...

Meski berkali-kali tubuh yang kekar itu dihempas badai,
tergoda oleh terik sang surya,
dan sesekali tergiur oleh semilir angin malam,
yang menusuk-nusuk lembut,
dingin sampai sungsum lapisan terdalam...

Hari-hari yang mendebarkan itu tlah sampai pada "pelaminannya",
mencoba untuk mendapatkan "pengasuh" yang paling bijak,
dan ia sangat merindukan seorang sahabat,
yang slalu mengerti dan paham,
bahwa melodi yang slama ini terdengar,
tlah terbuang dari pijakan sejatinya,
"notasi-notasi" suci yang seringkali diabaikan keberadaannya...

Ketika sesuatu yang "kasat mata",
tak kuat lagi menjalin persahabatan,
dengan sesuatu yang tampak oleh mata dan mampu kita raba,
maka kecewa, nestapa, batin yang lara,
adalah "musuh" yang mesti dikendalikan,
saat "kuasa diri" sedang tak bersemayam di singgasana waktu,
bersama selendang kewibawaan yang slama ini senantiasa setia,
menentang alur fatamorgana,
dan mengobrak-abrik pondasi-pondasi yang kokoh,
dari bangunan kemunafikan...

Kini...ia hanya ingin diam dalam geram,
diam dan terus terdiam....

[Jakarta; 22 Januari 2015; 21:18]

Puisi - Air Mata Surga

19.21 6 Comments

Puisi - Air Mata Surga


Ada yang menangis,
karna rindu yang begitu menggumpal,
Ada yang menangis,
karena kekasihnya tak juga halal untuk ia sentuh,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata asmara....

Ada yang menangis,
demi sebuah prestise,
yang menopang bisnis trilyunan rupiah,
berpijak pada notasi-notasi abstrak,
yang mengaburkan antara fakta dan imaji,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata sandiwara....

Ada yang menangis,
karna anak-anaknya kelaparan,
bersama hutang yang terlanjur mendarah daging,
Ada yang menangis,
karna air, angin, api, dan tanah mengamuk tanpa jeda,
bersama puing-puing yang bersandar tak beraturan,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata nestapa....

Ada yang menangis,
karna terbangun dan sadar,
bahwa semua ini hanyalah senda gurau belaka,
yang berputar-putar pada permainan bengis bertabur fitnah,
Ada yang menangis,
karna penyesalan yang begitu hebat,
menetes deras bersama debu-debu tebal,
yang slama ini mengotori batinnya,
dan aku menyebutnya dengan istilah air mata surga...

Sayang,
ijinkanlah malam ini aku untuk menyendiri,
lepaskanlah sejenak genggaman jemari lentikmu,
lupakanlah sesaat perihal permadani yang empuk nan hangat,
karena malam ini aku benar-benar ingin menangis,
dan meneteskan air mata surga....

Puisi - Air Mata Surga
Puisi - Air Mata Surga

[Sungai Bambu; Senin, 05 November 2018; 10:15 WIB]

Baca Juga : PUISI - NAMAKU ADALAH JAKARTA

Puisi - Namaku Adalah Jakarta

06.39 5 Comments

Puisi - Namaku Adalah Jakarta

Puisi - Namaku Adalah Jakarta
Puisi - Namaku Adalah Jakarta

Namaku adalah Jakarta,
terlahir dari tetesan darah para pejuang,
tercipta dari hasrat-hasrat yang tak pernah berhenti bergolak,
hingga aku terpaksa melihat dunia dengan dua pasang mata,
ambisi dan cita-cita mulia....

Jutaan nyawa mencoba paksa,
merangkul aku dengan senyum getir mereka,
bak seorang budak yang tengah bersimpuh dihadapan sang raja...

Jutaan wajah murung pun setengah memuja,
seolah-olah mereka lupa,
bahwa aku bukanlah tempat sejati untuk kembali,
bagai seorang santri yang terpisah dari hafalan "kitab-kitabnya"....

Namaku adalah Jakarta,
terlahir dari tangisan dan doa para syuhada,
yang tulus melepas malam-malam pertama mereka,
dan ikhlas meninggalkan "wangi surga",
yang menempel lembut pada busana pengantin mereka....

Dari jauh aku tampak gemerlap dan megah,
namun saat kalian semakin mendekat,
maka jangan harap aku,
akan memberikan senyuman yang indah,
sekali-kali tidak !!!

Hanya pada mereka yang imannya setebal baja,
dan hanya pada mereka yang memiliki bola mata sebening mutiara sajalah,
akan kutitipkan sajak-sajak kemenangan....

[Sukapura; Minggu, 04 November 2018; 21:28 WIB]

Baca Juga : PUISI - MURIDKU SEORANG BIDUAN
Baca Juga : PUISI - MIMPI YANG SEMPURNA
Baca Juga : PUISI - KERETA TIBA PUKUL 11.55
Baca Juga : PUISI - BIANGLALA, SATU SENYUMAN PENGHAPUS LUKA

Menikmati Segarnya Teh Poci

07.50 4 Comments

Menikmati Segarnya Teh Poci

Alhamdulillah. Untuk yang kesekian kalinya saya bisa menikmati kembali kesegaran minuman lezat asal Slawi, Jawa Tengah. Meskipun pada kesempatan kali ini saya harus menikmatinya sendiri. Karena memang kebetulan hari ini memang saya lagi jalan sendiri alias jomblo...hehehe.

Teh Poci. Adalah sebuah tradisi minum teh tubruk yang disajikan dengan cara yang romantis. Minuman ini sering membuat saya ketagihan. Rasa minuman ini begitu mempesona dan sulit untuk dilupakan.

Menikmati Segarnya Teh Poci
Menikmati Segarnya Teh Poci

Untuk menambah kelezatan minuman teh ini, kita dapat mencampurkan setetes demi tetes air jeruk nipis. Teh yang bercampur dengan gula batu dan tetesan / perasan air jeruk terbukti membuat minuman ini makin nikmat.

Teriknya Mentari Tak Akan Terasa Saat Tengah Asyik Moci

Meskipun udara kota Jakarta Utara semakin panas saat menjelang siang hari, namun hal itu seolah-olah tak terasa. Justru kita tetap asyik menikmati kesegaran teh poci ini sampai sruputan terakhir.

Mengobrol santai sambil minum teh poci memang terasa istimewa. Kita serasa berada di zaman kerajaan pada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Baca Juga : KOPI HITAM - ADALAH LAGU WAJIB NASIONAL MENYAMBUT PAGI

Apalagi jika kudapan yang disediakan oleh pemilik warung teh poci bervariasi. Maka akan menambah kita betah duduk berlama-lama di warung teh poci.

Saya biasanya mampir di sebuah warung teh poci yang lokasinya tak jauh dari SMP Al-Husna Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Di tempat inilah saya benar-benar bisa mengenang kembali masa-masa sekolah sewaktu di desa. Teh poci mengingatkan juga saya pada alam pedesaan. Wes pokoknya Sobat harus segera minum teh poci untuk mendapatkan kesegaran yang nyata dan istimewa. Salam Moci.

Permainan Bola Bekel - Keceriaan Masa Lalu Yang Mulai Terlupakan

19.52 7 Comments

Permainan Bola Bekel - Keceriaan Masa Lalu Yang Mulai Terlupakan

Permainan Bola Bekel merupakan salah satu permainan tradisional dari Jawa Tengah yang dimainkan oleh 2 sampai 4 orang pemain. Permainan Bola Bekel ini menggunakan satu buah bola karet dan sekitar 10 biji bekel yang dimainkan dengan cara melemparkan bola karet setinggi 30 cm.

Selama bola melayang keatas pemain diwajibkan mengambil biji bekel kemudian membalikkan posisi biji bekel secara terbalik atau beda posisi. Aturan pembalikkan biji bekel ini biasanya ditentukan sesuai kesepakatan pemain.

Permainan Bola Bekel - Keceriaan Masa Lalu Yang Mulai Terlupakan
Gambar: www.kaskus.co.id

Di Indonesia banyak terdapat jenis permainan tradisional seperti Gobag SodorSunda MandaPetak UmpetJunjangan, dan berbagai permainan tradisional anak lainnya yang kini sudah kurang diminati anak-anak.

Terbatasnya ruang bermain menjadi salah satu faktor penyebab permainan bola bekel ini jarang terlihat terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Anak zaman sekarang lebih familiar memainkan gadget yang dimilikinya.


Seperti handphone ataupun tablet yang menyediakan berbagai software game yang dengan mudah dapat mereka download langsung dari gadget yang mereka miliki.

Keceriaan Di Siang Hari Sampai Senja Di Desa

Dulu, sewaktu saya masih kecil yakni selepas pulang sekolah dan menyelesaikan acara makan siang, anak-anak berkumpul di sebuah tanah kebon yang datar dan lebar. Mereka berkumpul untuk memainkan beberapa jenis permainan tradisonal.

Semua anak tampak gembira menghabiskan waktu bermain sampai menjelang Adzan Maghrib, ketika senja mulai menampakkan senyumnya. Jumlah anak-anak yang melakukan permainan tradisional pada waktu itu bisa mencapai 20 sampai dengan 50 puluh anak. Suasana ceria dan riang pun tampak terlihat.

Pelajar SMP Bermain Bola Bekel
Pelajar SMP Bermain Bola Bekel

Pada waktu itu dunia terasa aman dan nyaman. Anak-anak bisa bermain dengan bebas namun tetap dalam pengawasan orang tua. Tak ada cerita tentang gangguan pada anak yang mengarah pada tindakan melanggar hukum seperti yang terjadi pada masa sekarang.

Permainan Bola Bekel Versus Gadget

Permainan tradisional seperti permainan bola bekel ini sebenarnya memberikan dampak positif yang lebih banyak ketimbang permainan anak-anak zaman sekarang yang mengandalkan peralatan elektronik.

Selain melatih kemampuan motorik anak, permainan bola bekel ini membiasakan anak untuk berinteraksi dengan anak-anak sebaya secara lebih baik. Anak mendapatkan manfaat positif yang mereka peroleh dari permainan tradisional yakni menjalin keakraban dan interaksi sosial yang baik.


Anak menjadi peduli dengan temannya dan mau berbagi suka dan duka yang mereka alami. Yah...tentu saja suka dan duka versi anak. 

Sayangnya, permainan seperti permainan bola bekel ini sudah mulai ditinggalkan akibat gencarnya penetrasi produk-produk multimedia dan gadget yang sudah terhubung dengan internet.

Dampaknya adalah anak jadi semakin individual dan tumbuh secara tidak sehat. Karena mental atau akhlaknya terus digerogoti oleh konten-konten dewasa yang mestinya belum diperbolehkan untuk mereka lihat.

Kemauan belajar pun jadi semakin menurun, dan menjadikan anak malas untuk meraih masa depan yang gemilang. Hal ini mesti menjadi perhatian serius para orang tua. Semoga anak-anak bisa menikmati masa kanak-kanaknya secara wajar dan tidak kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Salam sukses selalu.

Puisi - Lorong-Lorong Sempit

19.52 17 Comments
Puisi - Lorong-Lorong Sempit
(Gambar: teknologi.news.viva.co.id)

Puisi - Lorong-Lorong Sempit

Rentang kesabaranku akhir-akhir ini semakin menipis,
berlindung dibalik kenakalan sel tubuh majemuk,
menggiring anganku pada lorong-lorong yang sempit,
dan dengan lantang ia pun berkata:
"Ini sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk menjemputmu Sayang..."

Lorong-lorong sempit itu tak semerah dulu lagi,
merasa risih dan resah,
akan penghuni-penghuni baru yang tak mengenal sopan santun,
dan dengan lantang ia pun berkata:
"Aku sudah tak tahan lagi dengan kezaliman ini!"

Lorong-lorong sempit itu kadang bergetar hebat,
membalas kalimat pada pagar berlubang,
berjabat mesra dengan sisa-sisa kenikmatan,
setelah usai mengakhiri tiga santapan terakhir bersama sang majikan,
dan dengan lantang ia pun berkata:
"Ingin sekali aku membencimu!"

Lorong-lorong yang sempit itu pun semakin gelap dan pengap,
meredup bersama sukma yang melayang jauh....

[Sungai Bambu, 30 Maret 2015, 10:39]

Baca Juga : SUKARAJA - MATAHARI TERSENYUM DIBALIK POHON MANGGA
Baca Juga : PUISI - MIMPI YANG SEMPURNA

Puisi - Mimpi Yang Sempurna

19.01 4 Comments

Puisi - Mimpi Yang Sempurna

Dulu ia sedikit centil dan amat lucu,
yang terbungkus mewah dalam bibir yang sumringah...

Dulu ia begitu gesit dan lincah,
senantiasa larut bersama gemerlap malam Ibukota...

Dan kini,
kulihat keteduhan dibalik tatapan panjangnya,
berusaha menahan pedih,
yang slama ini hadir dengan wajah manja-nya...

Puisi - Mimpi Yang Sempurna
Puisi - Mimpi Yang Sempurna

Ada kerinduan yang tak berujung pertemuan,
menantikan separuh belaian yang hilang,
semenjak 15 tahun yang silam...

Detik-detik itupun terasa mulai mendebarkan,
bersama cita dan cinta,
yang mulai membumbung tinggi ke langit ke tujuh...

Hari-hari itupun seakan menenggelamkan dirinya dalam kebimbangan,
sebuah pertarungan yang sengit,
antara harapan dan kepasrahan...

Dalam kemelut dan gelisah di sepertiga malam,
jiwa belia itupun berbisik lirih,
sembari menyeka bulir-bulir lembut,
yang mengalir bak mutiara di kedua pipinya...

Dan rembulan pun seolah tak ingin beranjak pergi,
setia membuai sang gadis dalam mimpi yang sempurna....

[Sungai Bambu, Jum'at, 26 Oktober 2018, 08:59]

Artikel Populer Lainnya