Inilah Yang Terjadi Jika Negara Terus Berhutang

06.07
Menurut pemberitaan beberapa media menyebutkan bahwa per akhir Juli 2017, total utang pemerintah pusat tercatat mencapai Rp 3.779,98 triliun. Dalam sebulan, utang ini naik Rp 73,46 triliun, dibandingkan jumlah di Juni 2017 yang sebesar Rp 3.706,52 triliun. Hutang sebesar itu digunakan untuk membangun infrastruktur, membiayai pengeluaran untuk perlindungan sosial, transfer ke daerah, dan lain-lain yang berhubungan dengan pembangunan di Indonesia.

Bagi rakyat kecil seperti saya, tentu ini menjadi hal yang mesti diperhatikan. Yakni ketika kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah bahwa pertumbuhan ekonomi kita tengah mengalami stagnasi, daya beli masyarakat menurun, yang artinya negara belum sukses untuk memakmurkan rakyatnya. Apalagi saat ini kita mendengar dan membaca informasi bahwa satu per satu perusahaan-perusahaan ritel mulai mengurangi jumlah karyawannya, dan tak sedikit pula yang harus menutup usahanya. Tentu saja, tak ada perusahaan yang mau menanggung kerugian dalam waktu yang lama, sehingga keputusan untuk memberhentikan perusahaan adalah hal yang mutlak diambil.

Hutang menjadi suatu langkah kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah ketika anggaran negara mengalami defisit, yakni jumlah pengeluaran lebih besar daripada jumlah penerimaan. Menurut hemat saya, hutang sepanjang digunakan untuk aktivitas produktif maka akan memberikan nilai tambah dan otomatis akan meningkatkan pendapatan. Akan tetapi, jika hutang digunakan untuk keperluan konsumtif meskipun judulnya adalah untuk melancarkan kegiatan produktif, maka sama saja hutang itu akan semakin membebani negara.

Apabila kita lihat perkembangan saat ini menunjukkan bahwa kemampuan Indonesia dalam mengekspor barang semakin menurun. Ini sebagai dampak tidak digerakkannya sektor ekonomi produksi, yang notabene sektor ini akan menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak. Kemudian, dengan menggiatkan aktifitas produksi kita dapat menjual/mendistribusikan/mengekspor barang tersebut ke berbagai negara dan meningkatkan pendapatan negara.

Apa yang terjadi jika negara terus berhutang?
Negara-negara berkembang ingin meningkatkan kualitas perekonomian mereka dan mengharapkan kemajuan seperti yang terjadi di negara-negara maju. Berhutang kepada negara-negara maju menjadi pilihan yang tak dapat dihindari, karena hutang memang hal yang cukup mudah dilakukan, namun berat dalam pengelolaan dan pengembaliannya.

Misalnya saja ada 10 (sepuluh) negara berkembang yang berhutang kepada satu negara maju. Masing-masing negara berkembang tersebut katakanlah meminjam masing-masing sejumlah 1000 (seribu) triliun rupiah dan mereka diwajibkan membayar bunga pinjaman sebesar 10% (sepuluh persen) per tahun dari total jumlah pinjaman. Sehingga per tahun negara-negara berkembang ini akan membayar bunga hutang (ya, bunganya saja) sejumlah 100 (seratus) triliun rupiah. Maka setiap tahun si negara maju pemberi hutang ini akan mendapatkan 1000 (seribu) triliun penerimaan dari bunga yang dibayarkan oleh seluruh negara berkembang seperti yang diilustrasikan diatas. Wow itu baru contoh untuk sepuluh negara.

Yang Terjadi Jika Negara Terus Berhutang
Yang Terjadi Jika Negara Terus Berhutang

Nah, dari ilustrasi sederhana diatas jelaslah tergambar bahwa hutang yang dilakukan negara-negara berkembang itu kepada negara maju secara tidak sadar telah meningkatkan perekonomian negara maju pemberi pinjaman. Setiap tahun negara maju ini mendapat rezeki (secara cuma-cuma) sejumlah 1000 (seribu) triliun rupiah, yang dapat mereka gunakan untuk membuktikan bahwa negara-negara berkembang itu tidak akan pernah bisa mengejar perekonomian negara maju pemberi hutang tersebut. Apalagi jika di dalam kontrak perjanjiannya mensyaratkan negara yang berhutang tersebut untuk tunduk pada kebijakan ekonomi negara maju.

Kira-kira seperti apa kebijakan ekonomi negara pemberi pinjaman?
Ya, karena mereka adalah pihak yang memiliki kuasa (karena punya uang untuk dipinjamkan), maka dengan mudah mereka memberikan syarat yang ujung-ujungnya memberikan keuntungan ganda bagi pemberi hutang. Mereka tentu tak ingin uang yang mereka pinjamkan bersifat bantuan alias cuma-cuma. Ini tak mungkin terjadi di era ekonomi modern seperti sekarang. Bisnis is bisnis, duit ya duit. Duit tidak ada hubungannya dengan istilah peduli, empati, atau belas kasih.

Misalnya, dalam perjanjiannya mereka mengharuskan agar perusahaan-perusahaan yang mengelola proyek-proyek pemerintah yang dananya bersumber dari hutang tersebut, untuk dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan milik si pemberi hutang. Kemudian, misalnya ditambah lagi dengan syarat yang mewajibkan segala bahan baku dan peralatan canggih harus diimpor dari negara pemberi hutang tersebut.

Biasanya negara pemberi hutang ini sering kali mengintervensi kebijakan politik dan ekonomi suatu negara. Misalnya, Indonesia yang sering sekali "didikte" oleh kebijakan Amerika lantaran negara tersebut banyak berkontribusi dari segi finansial. Tak heran, jika kebijakan ekonomi maupun kebijakan-kebijakan lainnya dari negara Indonesia cenderung pro pada negara pemberi utang seperti Amerika, Australia, Singapura, dan negara lainnya. Dimana letak negara kita sebagai negara yang berdikari? Berdiri diatas kaki sendiri?

Nah, jelas bukan seperti apa posisi negara yang berhutang ini? Sudah susah ketimpa apes pula, seperti itu kira-kira perumpamaannya. Dus artinya negara yang berhutang akan semakin terpuruk dan tertinggal. Belum lagi apabila sampai dengan tanggal jatuh tempo hutang tersebut belum juga dicicil, maka kita bisa memprediksikan berapa denda yang harus dibayarkan. Yang rugi siapa? Ya, negara yang berhutang toh, tentu akan semakin sengsara dan sengsara. (Semoga Allah swt menyelamatkan/membebaskan negara Indonesia dari keadaan yang terus-menerus membuat Indonesia berhutang kepada negara lain, dan perekonomian kita semakin maju, Aamiin.)

Kira-kira bisa tidak ya negara untuk tidak berhutang?
Pertanyaan seperti ini tentu sangat sulit untuk dijawab, lha wong kenyataannya dari dulu negara Indonesia yang kita cintai ini selalu berhutang kok. Jadi, tidak mungkin kalau negara tidak berhutang. Namun, kita mesti mencoba untuk mengalihkan utang luar negeri kita menjadi investasi dalam negeri. Caranya bagaimana?

Nah, sebagai orang awam saya mengusulkan bagaimana kalau si pemberi hutang itu adalah rakyat, artinya rakyat meminjamkan uang kepada negara untuk dikelola demi kepentingan negara dan rakyatnya? Jadi, daripada bunga pinjaman itu jatuh ke negara maju dan membuat mereka semakin maju, lebih baik bunga pinjaman itu kembali ke rakyat. Kalau untuk Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka bunga ini akadnya bisa diganti misalnya dengan cara bagi hasil. Sehingga selain pemerintah bisa membangun, rakyat juga akan semakin untung. Dengan syarat, bahwa pinjaman dari rakyat itu digunakan untuk membangun infrastruktur yang sifatnya produktif, seperti untuk membangun pabrik dan lain sebagainya.

Apakah rakyat mampu untuk memberikan hutang kepada negara?
Kita tak boleh pesimis sebelum mencoba. Buat aturan atau undang-undang yang bagus, kemudian sosialisasikan dengan benar dan jujur, sehingga rakyat paham dan mau menginvestasikan uangnya untuk negara. Jika ada 10 (sepuluh) juta penduduk yang meminjamkan uang kepada negara sebesar Rp. 10.000.000,- maka negara akan memperoleh hutang sebesar 100 (seratus) trilun rupiah. Ini hanyalah contoh sederhana yang bisa kita ambil. Kita juga harus punya kewibawaan di hadapan negara-negara lain, artinya keputusan pemerintah dan rakyatnya tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Daripada kebijakan ekonomi negara kita dikuasai negara lain, maka sudah saatnya kita untuk bangkit dan mandiri. Jangan sampai penjajahan yang dulu kita alami secara fisik, kini berubah wajah menjadi penjajahan secara ekonomi. Tentu masih ada solusi lain yang bisa kita tempuh untuk membuat bangsa ini semakin maju, apa yang saya sampaikan diatas hanyalah ide kecil saya sebagai wong cilik yang tak tahu banyak soal ekonomi.

[Sumber: finance.detik.com, ekonomi.kompas.com, uangteman.com]
Previous
Next Post »

10 komentar

  1. hutang kok terus menerus ya
    bisa-bisa hutang tak terbayar
    ke anak cucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia yang dikhawatirkan. Ayam yang bertelur, itik yang mengerami.

      Hapus
  2. Kesan berhutang kepada negara lain agak banyak dan apa yang ada dalam petikan ini hanyalah beberapa daripada kesan tersebut. Syarat si pemberi hutang contohnya mesti menggunakan peralatan dan kepakaran dari negara akan mengehadkan dan menyempitkan peluang rezeki rakyat si negara penghutang. Moga para pemimpin lebih bijak dalam mengatur bajet negara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga negara-negara di Asia Tenggara bisa bebas hutang dan membangun perekonomian secara mandiri.

      Hapus
  3. Indonesia itu
    Selalu hutang ke bank dunia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi tergantung sama negara pemberi hutang, termasuk kebijakan ekonominya.

      Hapus
  4. saya punya kotak obrolan baru untuk situs web anda

    BalasHapus
  5. tapi hutang indonesia menurun kok..

    menurun ke anak cucu kita maksudx.. :D

    BalasHapus

Artikel Populer Lainnya