Hidup Menjadi Mahal Akibat Menuruti Gaya

17.35
Salam sukses dan mulia!. Sobat pembaca yang selalu bersyukur dan berbahagia, akhir-akhir ini makin marak terjadi kasus perceraian rumah tangga yang melanda masyarakat Indonesia. Bahkan kita patut terkejut, dengan berita pernikahan publik figur yang berujung pada perpisahan. Padahal usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari.

Zaman sekarang, episode "kawin-cerai" telah menjadi "hobi" baru yang dengan mudahnya dilakukan tanpa mempertimbangkan banyak hal. Termasuk masa depan sang anak yang pasti membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang komplit dari kedua orang tuanya. Karena laki-laki dan perempuan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam mendidik anak.

MOTIF EKONOMI - PENYEBAB DOMINAN PERCERAIAN
Menurut pemberitaan di berbagai media, menyebutkan bahwa perempuan adalah pihak yang paling banyak melakukan "gugatan cerai" di pengadilan. Motif ekonomi menjadi penyebab dominan dalam berbagai kasus ketidakharmonisan rumah tangga.


Jika masalah ekonomi seringkali menjadi penyebab "kasus perceraian", maka usaha untuk memajukan perekonomian bangsa mutlak segera dilakukan. Sistem ekonomi yang baik setidaknya dapat memenuhi dua indikator penting, yakni terserapnya angkatan kerja dan upah yang sesuai dengan standar hidup layak nasional.

Hidup Menjadi Mahal Akibat Menuruti Gaya

Perbedaan upah minimum provinsi di berbagai daerah harus dihilangkan. Adanya perbedaan upah pada masing-masing daerah menunjukkan bahwa pembangunan nasional belum merata. Selalu saja terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, yang notabene terpusat di Pulau Jawa.

Selain itu masyarakat juga mesti "digiring" pada pola pikir yang sehat yang dapat meningkatkan kualitas kebahagiaan hidup dan secara tidak langsung akan mengurangi angka perceraian. Menikah adalah proses "sakral" yang tidak boleh diperlakukan seperti artis yang sedang bermain sandiwara. Karena menikah itu sangat dicintai Dzat Yang Maha Agung, dan perceraian adalah salah satu hal yang sangat sangat dibenci-Nya.

GAYA HIDUP FAKTOR UTAMA PENENTU KETIDAKHARMONISAN KELUARGA
Ada pepatah yang mengatakan: "Hidup itu sejatinya murah, yang membuatnya menjadi mahal adalah gaya hidup". Artinya bahwa sebenarnya banyak keluarga Indonesia yang untuk makan sehari-hari dan biaya pendidikan itu mampu mereka penuhi. Tapi karena banyak yang tergiur gaya hidup "mewah", akhirnya rencana mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah menjadi berantakan.



Jika para istri menjalani perjalanan hidup rumah tangga mengikuti gaya hidup, maka sesungguhnya ia sedang mendorong atmosfer rumah tangga pada situasi yang tidak harmonis. Contohnya adalah gemarnya kaum hawa dalam berbelanja segala sesuatu yang bukan merupakan kebutuhan pokoknya. Keuangan keluarga yang sebenarnya lebih dari cukup, justru dihambur-hamburkan untuk mengikuti "hasrat sesat" atau gaya hidup tak sehat ini.

BELAJAR DARI SAUDARA KITA KETURUNAN TIONGHOA
Seperti yang pernah disampaikan oleh presenter tenar Deddy Corbuzier melalui channel Youtube miliknya, ia menuturkan bahwa ada beberapa "prinsip hidup" warga keturunan yang sejak dulu selalu diajarkan kepada anggota keluarga sehingga banyak mengantarkan mereka menjadi orang-orang kaya. Prinsip hidup tersebut antara lain:


1. Menabung Sejumlah 50 Persen Dari Penghasilan.
Warga keturunan Tionghoa selalu memegang prinsip ini secara ketat dan tegas. Misalkan, jika penghasilan kita sebesar 3 juta rupiah, maka setengahnya wajib ditabung. Dan mau bagaimana caranya (tentu dengan yang halal / legal) mereka harus bisa hidup dengan uang 1.5 juta tersebut. Kalau sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak, maka mereka tidak akan bingung dan pusing.


2. Membeli Barang / Sesuatu Yang Benar-Benar Dibutuhkan dan Mampu Untuk Dibeli.
Membeli sesuatu barang harus disebabkan karena memang benar-benar dibutuhkan. Itupun ada aturan yang diberlakukan warga keturunan, yakni tidak boleh melebih 20 persen dari uang yang kita miliki. Kecuali misalnya untuk biaya pengobatan atau operasi di rumah sakit, ini adalah hal yang dikecualikan namun tetap dicatat dan diperhitungkan dengan teliti.


3. Haram Hukumnya Berhutang.
Hutang menjadi hal yang sangat dihindari. Karena mereka sangat memahami sistem dan tata kelola lembaga keuangan seperti bank yang berpijak pada bunga yang tentu dibebankan kepada para nasabah.


Kebiasaan menabung menjadi "sistem kekebalan" turun-temurun yang menyebabkan warga keturunan Tionghoa bisa terhindar dari hutang. Jasa nenek moyang mereka dalam mendidik keluarga membawa kepada kesuksesan jangka panjang.

Dari prinsip hidup tersebut diatas, sebagai insan yang dianugerahi akal dan pikiran sehat hendaknya ini kita jadikan bahan masukan yang berharga. Sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang tidak terjerumus dalam gaya hidup "tidak sehat" alias "sesat", akan menjadi individu-individu yang sukses lahir dan batin.

Keluarga adalah mutiara berharga yang harus kita jaga. Agar senantiasa rukun dan harmonis. Masing-masing anggota keluarga kudu memahami pentingnya meraih visi misi keluarga, agar menjadi keluarga Indonesia yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Para istri atau suami tak boleh egois mengikuti kemauan sendiri-sendiri. Harus selalu mendukung satu sama lain, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan tidak mengikuti gaya hidup yang tidak ada habisnya dan bisa menghancurkan sendi-sendi keromantisan keluarga. Semoga bermanfaat dan salam sukses selalu!.
Previous
Next Post »

10 komentar

  1. Subhanallah makasih mas, saya setuju sekali, banyakin nabung dan jangan berhutang biar hidup tenang, rumah tangga adem ayem aamiin😍

    BalasHapus
  2. jika terus mengikuti gaya kapan berakhirnya gaya akan terus berubah dan kita akan lelah mengikutinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bang, selalu bersyukur dan bijak menggunakan penghasilan. Yang penting gizi keluarga tercukupi.

      Hapus
  3. jangan gaya-gaya dalam hidup ini
    dan jangan berlaku mewah karena yang begitu tidak disukai Tuhan

    banyak kulihat di tv yang seperti ini
    hanya bisa mendesah dalam batin saja
    tapi biarlah, pasti lelah sendiri karena tiada akhirnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...yang penting jgn pernah lelah untuk update artikelnya ya Sobat. 👍

      Hapus
  4. jangan gaya2an kalau gapunya uang intinya itu yaa mas doddy.. hehehheee.. intinya bergaya sesuai kemampuan bentul betul betulll? makasih sharenya agar kita saling mengingatkan yaaa mas doddy.. agar hidup bhagia walaupun sederhana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul teh Vika. Sama-sama saling mengingatkan agar slalu happy dan gembira...hehe

      Hapus
  5. Gaya harus sesuai kantong kalau menurut saya. Kalau gak sesuai ya lucu aja gitu, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesuaikan dengan kondisi dan suasana. Mewah tak harus mahal. Walaupun rata2 mewah itu mahal sih...hehe salam olahraga!

      Hapus