Film Indonesia - Siapkah Untuk Mengguncang Dunia?

01.43
Salam sukses dan mulia!. Sobat netizen yang selalu bersyukur dan berbahagia, berita mengenai suksesnya sebuah film Indonesia bertema horor yang tayang atau dikemas ulang diberbagai negara tentu merupakan hal yang wajib kita syukuri. Apakah hal ini menjadi pertanda akan bangkitnya industri perfilman Nusantara? Jawabannya ada di benak para generasi muda Indonesia.

Melalui blog saya ini www.dodypurwanto.com, saya ingin berbagi saran dan pendapat bagi tumbuh dan berkembangnya industri perfilman Indonesia. Saya punya impian (lebih tepatnya adalah doa) agar film-film Indonesia benar-benar bisa berkembang dan maju kelak. Agar generasi muda Nusantara memiliki ruang yang luas untuk terus memberikan karya-karya terbaik mereka. Aamiin.

PERLU MENGANGKAT TEMA UNIVERSAL
Dengan jumlah penduduk sekitar 260-an juta, seharusnya film Indonesia sudah bisa berjaya dengan hanya memenuhi pasar lokal saja. Namun kenyataan membuktikan bahwa jumlah penonton film-film Indonesia di bioskop, meskipun sekarang mengalami kenaikan, jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia tentu masih terpaut jauh kekurangannya. Seharusnya setiap sebuah judul film beredar, minimal 10 juta penonton siap menyambut kehadiran film-film baru.

Jika dilihat kebelakang, film-film Indonesia lebih banyak mengangkat tema Komedi, Horor, dan Percintaan. Tema horor mendominasi wajah perfilman Nusantara. Menurut saya, tema horor tidak akan cukup kuat untuk mendobrak pasar dan merayu 260 juta penduduk untuk menonton film tersebut. Karena Indonesia, dengan mayoritas penduduk yang memegang teguh ajaran agama tentu wajib menjadi perhatian para produsen film di Indonesia.

Kita bisa belajar dari negara India yang sukses mengangkat industri perfilman negrinya sampai menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia. Industri film "Bollywood" telah sukses bersanding apik dengan Industri film Hollywood di Amerika dan Eropa.

Tema yang diangkat pada industri film Bollywood adalah Percintaan yang dikombinasikan dengan Permasalahan Sosial. Tema seperti ini tentu tidak akan bertolak belakang dengan keyakinan dan sisi psikologis manusia yang agamis. Artinya, pikiran dan hati sepakat bahwa film-film yang akan mereka tonton tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama. Tema Permasalahan Sosial bersifat universal dan lintas agama.

PERLU DIDUKUNG CERITA YANG BERAKAR PADA BUDAYA BANGSA
Sebagai negara yang multi etnis dan agama, seharusnya industri perfilman Indonesia bisa mengangkat tema-tema sosial dan sejarah yang berakar pada budaya bangsa. Apalagi di negara kita masih berdiri kokoh pusat-pusat peradaban lama, kerajaan-kerajaan Nusantara yang masih berdiri kokoh sampai saat ini. Sebagai contoh adalah Yogyakarta dan Surakarta dimana warisan kerajaan-kerajaan Nusantara masih bisa kita saksikan aktifitas kesehariannya.

Cerita yang berakar pada budaya bangsa jika dikemas apik oleh industri perfilman Indonesia akan menjadi tontonan luar biasa yang bisa mengguncang dunia. Jika Bollywood bisa menyajikan tema film yang menyertakan tarian dan musik tradisional mereka, maka peluang kita lebih besar lagi.

Buktinya para wisatawan manca negara selalu antusias menyaksikan atraksi budaya yang diperlihatkan oleh tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Bali. Inilah kunci untuk mengemas tema budaya Nusantara dalam industri perfilman Indonesia.

Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mengangkat pamor perfilman Indonesia agar layak / laris ditonton di seluruh dunia, langkah-langkah tersebut adalah:

1. Memperkuat Budaya Literasi.
Sebuah film yang hebat tentu membutuhkan skenario yang hebat pula. Ide cerita bisa diambil dari novel-novel berkualitas karya penulis-penulis hebat Indonesia. Namun mereka butuh "wadah" untuk menyalurkan bakat luar biasa yang mereka miliki agar dikenal masyarakat luas.

Bukan hanya dengan mengembangkan bakat-bakat belia anak-anak muda saja yang harus dilakukan, tetapi industri penerbitan juga harus mensupport karya anak-anak bangsa tersebut. Masyarakat juga mesti mendukung budaya membaca dan menulis generasi muda. Dengan memberikan contoh bahwa mereka gemar membaca dan menulis (terutama buku), maka ini akan menjadi modal awal variasi cerita atau tema di perfilman Indonesia.

2. Mendirikan Sekolah Film Sebanyak Mungkin.
Jika kita saksikan, kampus-kampus, universitas-universitas sangat jarang yang membuka jurusan film untuk mencetak para sineas hebat dan para bintang film yang piawai memainkan peran. Padahal industri film bisa menyumbang pendapatan yang tak terbatas untuk negara. Apalagi jika hak tayang sudah dibeli oleh berbagai negara di dunia, maka ini akan meningkatkan pendapatan negara.

Sekolah-sekolah dan kampus-kampus jurusan perfilman akan memberikan peluang yang besar bagi generasi muda untuk menghasilkan karya-karya kreatif mereka. Yah benar, meskipun butuh investasi yang sangat besar, tetapi kita tidak akan pernah sampai pada tujuan jika tak pernah mau memulai.

Toh kenyataannya, jurusan-jurusan yang ada sekarang tidak mampu terserap oleh dunia usaha maupun industri yang ada. Malah tren jumlah angka pengangguran di negara kita semakin tahun semakin meningkat drastis. Membangun kembali industri perfilman bisa menjadi salah satu cara meningkatkan perekonomian bangsa.

3. Memperbanyak Gedung Bioskop Yang Dekat Dengan Masyarakat.
Dulu di tahun 1997, saya yang tinggal dan berada tak jauh dari kota Purwokerto bisa memilih gedung bioskop mana yang akan dijadikan tempat menonton film. Sekarang gedung-gedung bioskop tersebut sudah ada yang tinggal nama. Tapi kabar baiknya, ada salah satu mall di dekat alun-alun Purwokerto yang sudah ada gedung bioskopnya.

Di Jakarta yang notabene kota metropolitan pun keberadaan gedung-gedung bioskop masih bisa dihitung dengan jari. Sedangkan gedung bioskop yang ada aksesnya terlalu merepotkan, seperti lokasi gedung yang berada di lantai paling atas sebuah mall, lahan parkir yang tidak maksimal (jauh dan kadang penuh sesak), yang membuat orang menjadi malas untuk menonton film di gedung bioskop.

Padahal saya yakin, warga Jakarta memiliki uang yang lebih dari cukup untuk menonton film di bioskop. Karena di hari-hari biasa kita masih bisa menonton film dengan harga tiket Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000 untuk satu judul film. Dan di kota seperti Jakarta uang satu juta rupiah sering dengan mudahnya lepas dari genggaman.

4. Mempermudah Perizinan Pada Bisnis Perfilman.
Edukasi adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk menarik minat para calon pengusaha di bidang perfilman. Masyarakat kita masih banyak yang awam tentang bagaiman mendirikan perusahaan atau lembaga legal di industri perfilman. Jangankan bidang film, untuk membuat badan usaha pada toko kelontong yang dimiliki pun masyarakat kita belum mendapatkan informasi yang memadai dan valid.

Setelah edukasi, maka selanjutnya adalah mendorong tumbuhnya jumlah pelaku-pelaku usaha di bidang perfilman ini. Perizinan harus dipermudah, pembukuan harus diedukasi dengan baik, dan akses untuk membayar pajak diperbaiki agar tidak terjadi salah penafsiran.

Agar tak membebani pelaku usaha di sektor ini, maka meringankan besaran pajak bisa memicu bangkitnya industri perfilman Indonesia. Karena saya yakin, jika film-film Indonesia sudah mampu mengguncang dunia, maka negara tak perlu lagi berhutang untuk melaksanakan pembangunan.

Dan untuk mendukung kemajuan bangsa, komunikasi apik antar anak bangsa juga harus terjaga keharmonisannya agar kita sama-sama bisa berusaha dan berdoa dalam suasana tenteram dan damai. Majulah Indonesiaku dan Salam Olahraga!

Film Indonesia, Ayo Bangkit dan Maju!,
Gambar: merdeka.com
Previous
Next Post »

12 komentar

  1. Balasan
    1. Terima kasih Sobat atas kunjungannya. Salam Olahraga!

      Hapus
  2. Setuju. Sebenarnya banyak talenta talenta di bidang perfilman kita. Contohnya saja banyak orang indonesia yang turut campur di perfilman skala internasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sukses selalu untuk film Indonesia. Terima kasih Sobat.

      Hapus
  3. Ada hollywood, bollywood, Mandarin, dan indocinema

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...yg belum ada Nusantarawood.

      Hapus
  4. Kalau saya perhatikan film India sering menampilkan sisi budayanya, meskipun tema percintaan atau lainnya ada saja menyertakan kebudayaan misalnya ritual pernikahan bahkan sisi keagamaannya juga ada
    mungkin itu memberi nilai lebih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba Maya. Itulah daya tarik film India yg bisa kita "adopsi" ide atau tema ceritanya.

      Hapus
  5. Bahasanya.. gk faham q Mz Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi...ngopi dulu kak Risna...biar makin mantap ngeblognya.

      Hapus
  6. Perfilman Indonesia masih perlu banyak belajar dari sineas dunia.
    Terutama kekuatan akting pemain dan tehnik produksinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bang Himawan. Potensinya sangat luar biasa. 260 juta penduduk, 10 juta saja bergerak di industri perfilman, maka kita nggak perlu lagi impor beras, gula, dan garam.

      Hapus

Arsip Blog - Lihat Artikel Lainnya